Ikan nila
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ikan nila adalah sejenis
ikan konsumsi
air tawar. Ikan ini di
introduksi dari
Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi
ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di
Indonesia sekaligus hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah
Oreochromis niloticus, dan dalam
bahasa Inggris dikenal sebagai
Nile Tilapia.
Pemerian
Ikan peliharaan yang berukuran sedang, panjang total (moncong hingga ujung ekor) mencapai sekitar 30
cmdan kadang ada yang lebih dan ada yang kurang dari itu. Sirip punggung (
pinnae dorsalis) dengan 16-17 duri (tajam) dan 11-15 jari-jari (duri lunak); dan sirip dubur (
pinnae analis) dengan 3 duri dan 8-11 jari-jari.
Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor
bergaris-garis tegak,
7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung
sirip punggung dengan warna merah atau kemerahan (atau kekuningan)
ketika musim berbiak.ada garis linea literalis pada bagian truncus
fungsinya adalah untuk alat keseimbangan ikan pada saat berenang
Ikan nila yang masih kecil belum tampak perbedaan alat
kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50
gram, dapat diketahui perbedaan antara
jantan dan
betina. Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang
genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di samping lubang
anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran
kencing dan
sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih gelap, dengan
tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh, sedangkan yang betina biasanya pada bagian perutnya besar.
Kebiasaan dan penyebaran
Ikan nila
Ikan nila dilaporkan sebagai pemakan segala (
omnivora), pemakan
plankton, sampai pemakan aneka tumbuhan sehingga ikan ini diperkirakan dapat dimanfaatkan sebagai pengendali
gulma air.
Ikan ini sangat
peridi, mudah berbiak. Secara alami, ikan nila (dari perkataan
Nile,
Sungai Nil) ditemukan mulai dari
Syria di utara hingga Afrika timur sampai ke
Kongo dan
Liberia; yaitu di Sungai Nil (
Mesir),
Danau Tanganyika,
Chad,
Nigeria, dan
Kenya. Diyakini pula bahwa pemeliharaan ikan ini telah berlangsung semenjak peradaban
Mesir purba.
Telur ikan nila berbentuk bulat berwarna kekuningan dengan
diameter sekitar 2,8
mm.
Sekali memijah, ikan nila betina dapat mengeluarkan telur sebanyak
300-1.500 butir, tergantung pada ukuran tubuhnya. Ikan nila mempunyai
kebiasaan yang unik setelah memijah, induk betinanya mengulum
telur-telur yang telah dibuahi di dalam rongga
mulutnya. Perilaku ini disebut
mouth breeder (pengeram telur dalam mulut).
Karena mudahnya dipelihara dan dibiakkan, ikan ini segera diternakkan
di banyak negara sebagai ikan konsumsi, termasuk di pelbagai daerah di
Indonesia. Akan tetapi mengingat rasa dagingnya yang tidak istimewa,
ikan nila juga tidak pernah mencapai harga yang tinggi. Di samping
dijual dalam keadaan segar, daging ikan nila sering pula dijadikan
filet.
Ikan ini menjadi hama di seluruh sungai-sungai dan danau di Indonesia
ketika di tebar ke dalam sungai dan danau karena ikan ini memakan
banyak tumbuhan air dan menggantikian posisi ikan pribumi indonesia,
akan tetapi ikan nila masih tetap ditebar oleh pemerintah di
sungai-sungai dan danau Indonesia tanpa memperhatikan dampaknya.
Anak jenis dan kerabatnya
Ada beberapa anak jenis ikan nila, di antaranya:
O. niloticus niloticus
- Oreochromis niloticus baringoensis Trewavas, 1983
- Oreochromis niloticus cancellatus (Nichols, 1923)
- Oreochromis niloticus eduardianus (Boulenger, 1912)
- Oreochromis niloticus filoa Trewavas, 1983
- Oreochromis niloticus niloticus (Linnaeus, 1758)
- Oreochromis niloticus sugutae Trewavas, 1983
- Oreochromis niloticus tana Seyoum & Kornfield, 1992
- Oreochromis niloticus vulcani (Trewavas, 1983)
Ikan nila berkerabat dekat dengan
mujair (
Oreochromis mossambicus). Dan sebagaimana kerabatnya itu pula, ikan nila memiliki potensi sebagai ikan yang
invasif apabila terlepas ke badan-badan air alami.
Genus Oreochromis memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dan toleransi terhadap kualitas
air
pada kisaran yang lebar. Anggota-anggota genus ini dapat hidup dalam
kondisi lingkungan yang ekstrem sekalipun, karena sering ditemukan hidup
normal pada
habitat-habitat di mana jenis ikan
air tawar lainnya tak dapat hidup.
Nilai gizi
Ikan nila dan mujair merupakan sumber
protein hewani murah bagi konsumsi manusia. Karena budidayanya mudah, harga jualnya juga rendah. Budidaya dilakukan di
kolam-kolam
atau tangki pembesaran. Pada budidaya intensif, nila dan mujair tidak
dianjurkan dicampur dengan ikan lain karena memiliki perilaku agresif.
Nilai kurang bagi ikan ini sebagai bahan konsumsi adalah kandungan
asam lemak
omega-6 yang tinggi sementara asam lemak omega-3 yang rendah. Komposisi
ini kurang baik bagi mereka yang memiliki penyakit yang berkait dengan
peredaran
darah.
[1]
Budidaya dan pembenihan
Langkah pertama dalam
budidaya
ikan nila ialah pemilihan induk ikan yang akan dibiakkan. Sebagai induk
dipilih ikan-ikan yang telah cukup umurnya dan siap memijah. Rasio
ideal antara induk jantan dan betina adalah 1:3. Padat penebarannya
disesuaikan dengan wadah atau
kolam pemeliharaan. Ikan nila yang dipelihara dalam kepadatan populasi tinggi, pertumbuhannya kurang pesat.
Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah kualitas air kolam
pemeliharaan. Kualitas air yang kurang baik akan mengakibatkan
pertumbuhan ikan menjadi lambat. Beberapa
parameter yang menentukan kualitas air, di antaranya:
- Suhu atau temperatur air sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhan organisme serta memengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme perairan. Suhu juga memengaruhi oksigen
terlarut dalam perairan. Suhu optimal untuk hidup ikan nila pada
kisaran 14-38 °C. Secara alami ikan ini dapat memijah pada suhu 22-37 °C
namun suhu yang baik untuk perkembangbiakannya berkisar antara
25-30 °C.
- Nilai pH merupakan indikator tingkat keasaman perairan . Beberapa faktor yang memengaruhi pH perairan di antaranya aktivitas fotosintesis, suhu, dan terdapatnya anion dan kation.
Nilai pH yang ditoleransi ikan nila berkisar antara 5 hingga 11, tetapi
pertumbuhan dan perkembangannya yang optimal adalah pada kisaran pH 7–8
.
- Amonia merupakan bentuk utama ekskresi nitrogen dari organisme akuatik. Sumber utama amonia (NH3) adalah bahan organik dalam bentuk sisa pakan, kotoran ikan maupun dalam bentuk plankton dari bahan organik tersuspensi. Pembusukan bahan organik, terutama yang banyak mengandung protein, menghasilkan ammonium (NH4+) dan NH3. Bila proses lanjut dari pembusukan (nitrifikasi) tidak berjalan lancar maka dapat terjadi penumpukan NH3 sampai pada konsentrasi yang membahayakan bagi ikan.
- Oksigen terlarut diperlukan untuk respirasi, proses pembakaran makanan, aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Sumber oksigen perairan dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Kadar oksigen terlarut yang optimal bagi pertumbuhan ikan nila adalah lebih dari 5 mg/l.
Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran di dasar kolam juga
akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air
disebabkan oleh adanya
plankton; air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecoklatan karena banyak mengandung
diatom.
Plankton ini baik sebagai makanan ikan nila, sedangkan plankton biru
kurang baik. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan. .